16.10.15

Chapter 0 - Kek Rusli

sumber gambar : google


8 Oktober, 2025

~

"Drap drap drap drap.. "

Pemuda itu berlari dengan kecepatan tinggi. Tidak jelas apa yang sedang ia kejar, atau apa yang sedang mengejarnya. 

Yang pasti, ia berlari penuh keyakinan. Ia berlari seakan-akan ia sudah sering berlari seperti ini. Ya, mungkin saja ia memang sering melakukannya. 

Langkah demi langkah ia jatuhkan. Badannya tegak, dengan nafas yang sangat teratur, masuk dari hidung keluar lewat mulut. Tak ada sedikitpun gerakan tangan yang tak perlu. Apalagi gerakan meluruskan tangan ke belakang -  seperti yang dilakukan naruto - dengan dalih aerodinamis.

Ia sangat menghemat gerakannya. Manuver saat membelok jalan dilakukan dengan sudut sekecil mungkin. Ia juga berlari tanpa sepatu, untuk menambah daya remnya. Mungkin kalian berpikir, apa ia tidak takut dengan kerikil, jarum, atau pecahan di jalan? 

Ia tidak takut. Ia sudah sering melakukannya. Mungkin ia sudah hafal letak kerikil-kerikil di jalanan.


Orang-orang yang ia lewati banyak yang kebingungan. Bahkan ada yang berpikir pemuda ini orang sinting. Ya itu wajar. Bahkan pemuda itu sudah mengenal semua orang yang dilewatinya. Jadi itu tidak masalah. 

Lalu ia berhenti di tengah-tengah trotoar, sambil mengatur nafasnya. Didepannya adalah Jalan Raya Basuki Rachmat, tempat di mana kendaraan-kendaraan lewat seperti ribuan sperma yang berlomba-lomba mencapai sel telur kehidupan. 

Sepertinya ia hendak menyebrang. Dan di depannya tak tampak garis-garis putih zebracross segarispun. 

"Satu.. Dua.. Tiga.. Empat, "

Pemuda itu mulai menyebrang, dengan mata tertutup. 5 langkah, lalu berhenti 0,6 detik. Dilanjutkan dengan 7 langkah, lalu berhenti 2 detik, lalu ia berlari. Ia sampai di sebrang jalan. Ia menyebrang. 

Tanpa bunyi-bunyian klakson. Tanpa ada suara sirine ambulans datang, apalagi kedatangan sang malaikat pencabut nyawa. 

Bagaimana bisa? 

Sepertinya ia sudah sering melakukannya. Bahkan mungkin sepertinya ia sering mati di jalan raya ini. 

Akhirnya ia sampai ke tempat tujuannya. Seorang kakek tua yang duduk bersila, dengan kepala tertunduk, jaket lusuh, topi bundar berlubang, dan kaleng berisi beberapa recehan. 

"Kek Rusli, " pemuda itu memanggil, "Ini ada rejeki buat kakek."

Pemuda itu membuka dompetnya, dan mengambil semua uang di sana, kira - kira 520.000. Ia menggenggamkan uang itu ke tangan si pengemis. 

Pengemis itu kebingungan. 

"Apa kita saling kenal?" kata si pengemis heran. 

"Tidak. 
Tapi aku kenal dengan kakek, sangat lama. 
Itu uangnya buat biaya pendidikan Si Dirman. Katanya dia mau jadi tentara. Harus banyak belajar." kata pemuda itu sambil tersenyum tulus. 

Pengemis itu bingung, sekaligus bahagia. Air mata mulai menetes ke pipinya. 
"Apa engkau... Malaikat? " tanya si pengemis. 

"Semua orang bisa menjadi malaikat, ia hanya perlu berbuat baik pada orang yang membutuhkan. Ambil uang itu, dan jaga Dirman baik-baik, ia adalah malaikatmu."

Pengemis itu bertanya dalam tangisnya,  " Apa ada yang bisa kulakukan untukmu?"

"Ya. Aku ingin meminjam jaket, topi, tongkat, dan kalengmu, besok akan kukembalikan." 

Permintaan aneh dari seorang pemuda sepertinya. Tapi melihat apa yang ia lakukan sebelumnya, mungkin hal ini tidak terlihat aneh lagi. 
Pasti ada yang salah dengan otaknya. 

Si pengemis memberikan perlengkapannya pada si pemuda. 

"Nggak papa, Kek, sekarang pulang aja, ngomong ke Dirman kalo dia bisa jadi tentara. Jangan lupa beliin eskrim durian, dia suka banget sama rasa durian"

"..."

"Makasih banyak, Nak," kata si pengemis sambil menjabat tangan si pemuda erat-erat.

"Tidak, Kek, saya yang harusnya berterima kasih."

Pengemis itu berjalan menjauh, sambil melambaikan tangannya pada si pemuda.

Jaket dan topinya ia pakai. Lalu ia duduk bersila, sambil melihat keadaan sekitarnya. Kemudian ia berkata pada dirinya sendiri, 

"Ternyata begini rasanya jadi pengemis... "

... 

Siapa sebenarnya pemuda aneh ini.

No comments:

Post a Comment